02.02 -
artikel,islami,no valentine
No comments
artikel,islami,no valentine
No comments
Jangan Tertipu Gemerlap Valentine’s Days
“Crasss…” kepala St. Valentine dipancung oleh penguasa Roma. Inilah kisah tragis tentang seorang bishop
di Terni, suatu tempat kira-kira 60 mil dari Roma. Kenapa ia dipancung?
Konon kabarnya gara-gara ia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam
agama Kristen. Itu terjadi sekitar tahun 273 Masehi. Dalam
perkembangannya, peristiwa tersebut lalu dikaitkan dengan acara
Valentine’s Day yang ada sekarang, yakni acara hura-hura anak muda
dengan pasangannya masing-masing.
Nah,
acara Valentine’s Day yang telah menjadi hajatan wajib bagi kamu itu,
ternyata punya latar belakang peristiwa yang bukan berasal dari Islam.
So, bahkan dalam versi lain, disebutkan bahwa pada awalnya orang-orang
Romawi merayakan hari besar mereka
yang jatuh pada tanggal 15 Pebruari yang diberi nama Lupercalia. Peringatan ini adalah sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Laki dan perempuan berkumpul, lalu saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya—tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi, brur!
yang jatuh pada tanggal 15 Pebruari yang diberi nama Lupercalia. Peringatan ini adalah sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Laki dan perempuan berkumpul, lalu saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya—tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi, brur!
Lalu
seiring dengan berjalannya waktu, pihak gereja—yang pada waktu itu
agama Kristen mulai menyebar di Romawi—memindahkan upacara penghormatan
terhadap berhala itu menjadi tanggal 14 Pebruari. Dan dibelokkan
tujuannya, bukan lagi menghormati berhala, tapi menghormati seorang
pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Nama acaranya pun bukan lagi Lupercalia, tapi Saint Valentine’s Day.
Weleh-weleh,
kamu yang ikut-ikutan dalam hajatan Valentine’s Day itu ternyata
merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Nggak tahu apa nggak
mau tahu? Itu salah besar kawan! Makanya, benar apa yang dikatakan oleh
Umar bin Khaththab bahwa al ilmu qobla al amal, artinya bahwa
ilmu itu mendahului perbuatan. Dengan demikian, sebelum kita tahu status
hukum suatu perbuatan, nggak boleh melakukan perbuatan tersebut. Jangan
neko-neko kalo belum tahu hukumnya. Jadi, segala sesuatunya harus
jelas. Tidak boleh samar, dan harus tahu status hukum perbuatan yang
bersangkutan. Ngerti kan? Iya, dong!
Baik,
kita nggak akan memperpanjang masalah latar belakang Valentine’s Day,
karena semua orang tahu, bahwa acara tersebut bukan produk dari
peradaban Islam. Dan memang Rasulullah saw tidak pernah menganjurkan
apalagi mengajarkan acara seperti itu. Tapi yang akan kita soroti lebih
dalam adalah bagaimana dampak dari acara Valentine’s Day yang setiap
tahun menjadi hajatan wajib anak muda macam kamu, yang merasa harus
alias kudu merayakan acara tersebut. Meski harus merogoh kocek ortu kamu dalam-dalam.
Cinta Atau Seks?
Apa
jawaban kamu ketika ditanya kenapa ikut dalam pesta Valentine’s Day?
Karena acara itu adalah perayaan kasih sayang? Bisa jadi sebagian besar
jawabannya demikian. Namun perlu diingat bahwa sebenarnya bukan kasih
sayang, tetapi lebih ke arah bagaimana mengumbar hawa nafsu, yakni seks.
Orang-orang Barat, biasa mengucapkan kata-kata cinta dan kasih sayang
dengan ucapan, make love. Nah, tentu saja itu artinya bermain cinta yang ujung-ujungnya intercourse alias bersetubuh. Wah, berabe itu!
Oke,
sekarang kamu percaya saja kalau dikatakan bahwa sebenarnya model
pergaulan anak-anak muda seusia kamu itu sudah liar. Gimana nggak liar,
cowok dan cewek gaul bareng nggak kenal batas. Persis dengan apa yang
diajarkan oleh James Van Der Beek dan kawan-kawannya dalam serial Dawson’s Creek yang setiap sepekan sekali ditayangkan di salah satu televisi swasta di negeri ini.
Atau gaya gaul model KNPI alias Kissing, Necking, Petting dan Intercourse, seperti
pergaulan amburadul (seks dan kokain) yang sering digambarkan oleh
Shannon Doherty, Tiffani “Valerie” Amber-Thiesen, Luke “Dylan McKay”
Perry, Brian “David” Austin dan Jason “Brandon” Prestley dan
kawan-kawannya dalam Beverly Hills 90210. Yang kalau menurut penilaian orang-orang, konon kabarnya lebih ekstrim ketimbang kisah cintanya Galih dan Ratna dalam Gita Cinta di SMA yang
diperankan oleh Mas Rano Karno dan Mbak Jessy Gusman. Dalam kisah itu,
baca surat cinta atau melihat atap rumah sang kekasih saja, rasanya.. gimanaaa gitu. Pokoknya beda banget dengan yang digambarkan oleh David dan Valerie dalam BH 90210.
Meski tetap saja, gaya gaulnya Galih dan Ratna dalam Gita Cinta di SMA
juga bertentang dengan ajaran Islam. Nah, yang kayak begitu aja
bertentangan dengan Islam, apalagi gaya gaulnya remaja Barat. Rusak
berat, Non!
Acara
Velentine’s Day yang diklaim sebagai hari kasih sayang ternyata hanya
kedok semata. Buktinya, di balik gemerlap pesta Valentine’s Day, yang
katanya hari kasih sayang itu, ternyata tersimpan budaya yang sangat
berbahaya bagi generasi muda macam kamu, yang boleh dikatakan masih bau
kencur alias anak kemarin sore. Pesta yang dirayakan setiap tanggal 14
Pebruari itu ibarat bom waktu yang siap meledak. Kita telah tertipu
dengan gemerlapnya hajatan Valentine’s Day tersebut.
Makanya,
benar kata pepatah, bahwa menyikapi persoalan itu harus bijaksana.
Artinya, kita jangan mudah tergoda dengan sesuatu yang kelihatannya
gemerlap. Disangka emas, eh, ternyata malah tembaga. Atau sebaliknya,
disangka tembaga, ternyata malah emas. Inilah persoalannya, bahwa kita
memang harus jeli memandang setiap persoalan. Termasuk masalah
Valentine’s Day ini. Supaya kamu nggak nyesel seumur-umur. Daripada
nyesel seumur-umur kan mendingan senang seumur-umur, iya nggak?
And,
kamu juga kudu sadar, bahwa banyaknya teman-teman kamu—termasuk di
seluruh dunia—yang ikut merayakan Valentine’s Day bukan berarti acara
tersebut sah dan legal. Soalnya, sah atau legal acara tersebut bukan
tergantung dari banyaknya orang melakukan perbuatan tersebut. Nggak juga
tergantung dari selera kamu sebagai manusia yang memandang persoalan
hanya dari sudut pandang baik atau buruk menurut ukuran perasaan dan
pikiran kamu semata. Tapi seluruhnya disandarkan kepada ajaran-ajaran
Islam. Islam sebagai patokan.
Ibarat kamu mau beli baju, normalnya, pasti standarnya adalah bodi
kamu, bukan bajunya. Kalau bodi kamu kecil atau gede, maka nyari
bajunya pasti yang seukuran dengan badan kamu itu. Bukannya badannya
kamu yang dikecilin atau digedein agar pas dengan baju itu. Iya, nggak?
Sekali lagi, aturan Islam yang dijadikan patokan berbuat kita, bukan
yang lain.
Jadi,
Valentine’s Day sebetulnya bukan meng-agungkan cinta dan kasih sayang,
tapi lebih ke arah mengumbar nafsu seks. Nafsu kamu dibiarkan bangkit
dan liar tanpa kendali.
Cinta Itu Dopping
Kamu pernah dengar lagu Koes Plus—grup musik yang tenar tahun 60-an itu—mendendangkan syair yang bunyinya begini, Ke Jakarta Aku kan kembali. Walaupun apa yang kan terjadi. Pasti yang senang dengan genre (jenis) musik ngak-ngik-ngok
ini—istilah Bung Karno dulu—akan hapal dengan lagu tersebut. Koes Plus
berusaha menggambarkan kepada orang bahwa keinginan itu mengalahkan
segalanya. Tentu saja karena ada harapan. Meski kadangkala akhirnya
harus realistis. Namun tetap memiliki optimistis. Ya, rasa penasaran
lah, intinya memang begitu. Karena ada keinginan tertentu yang
tersembunyi. Kalau bahasa gaulnya sekarang ini adalah berbuat karena ada
maunya. Sulit rasanya idealis, bila tak ada harapan yang dikejar. Iya,
tokh?
Nah,
termasuk dalam masalah cinta ini. Nggak mungkin dikejar, bila tak
memiliki harapan yang didambakan. Mustahil itu. Terlepas dari benar atau
salah. Yang pasti, memang kamu mengejar sesuatu yang memiliki daya
tarik. Ya, cinta memang dopping. Bikin penasaran dan ampuh
mem-bangkitkan kekuatan. Dan Valentine’s Day hanyalah sebagai salah satu
sarana untuk memuaskan keinginan kamu yang tak tertahankan. Valentine’s
Day hanyalah bungkus. Kemasan yang bisa bikin kamu tambah lengket
dengan kekasihmu. Yang sebetulnya kamu lagi nyari semacam legalisasi
dari nafsu liar kamu terhadap lawan jenismu.
Kalo
cinta bukan dopping, nggak bakalan Hitler mati-matian mengejar Eva
Braun. Atau kagak bakalan Julias Caesar memburu cinta Cleopatra. Juga
nggak bakalan Barbara Yung—pemeran A Yung dalam film Sia Tiauw Eng Hiong—bunuh
diri hanya gara-gara nggak kesampaian asmaranya. Karena cinta pula yang
mendorong Candraswami—politikus India—punya skandal dengan Pamela
Bordes yang saat itu menyandang gelar Miss Universe. Ya, sekali lagi,
cinta itu memang dopping. Mungkin kamu pun merasakan hal yang sama.
Meski nggak sampai dicatat dalam sejarah.
Ya, cinta memang sanggup membuat orang tergila-gila. Dalam kisah Midsummer Night’s Dream
karya William Shakespeare yang diangkat ke layar lebar dan dibintangi
Michelle Pfeiffer ada sebuah dialog yang mengatakan bahwa, cinta sanggup
menyibukkan hidup manusia. Benarkah? Yang pasti memang cinta mampu
membuat orang bergairah sekaligus lupa diri!
Nah,
makanya di sini perlu kendali yang bisa menjinakkan efek samping dari
dopping tersebut. Bila tidak? Ya, akan liar. Cinta bukan lagi sesuatu
yang sakral dan suci, tetapi sampah!
Valentine’s; topeng buruk model gaul remaja
Budaya
ini memang menyimpan bara api yang siap disemburkan. Ibarat diamnya
gunung berapi. Sangat berbahaya. Terutama bagi generasi muda macam kamu
yang masih labil. Yang mudah kaget dan tergoda dengan setiap perubahan
yang ada. Malah tak mustahil bila kemudian tanpa sadar latah mengikuti.
Padahal budaya itu adalah budaya yang nggak benar alias bertentangan
dengan way of life-nya Islam.
Terlebih Al Quran sangat ‘cerewet’ menyikapi masalah ini. Allah swt berfirman: “Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, peng-lihatan, dan hati, semuanya akan dimintai
pertanggungjawabannya.” (QS: Al Isra’: 36).
Apalagi budaya tersebut memang berasal dari way of life-nya aqidah lain, selain Islam—dalam hal ini adalah budaya orang Barat yang beraqidah sekuler. Firman Allah swt: “…dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu
kepadamu (keterangan-keterangan), sesung-guhnya kamu kalau demikian
termasuk golongan orang-orang dholim.” (QS: Al Baqarah: 145).
Maka,
di sinilah wajib bagi kamu untuk gaul juga soal hukum-hukum Islam.
Termasuk dalam hal ini adalah melakukan suatu perbuatan. Harus tahu
hukumnya dulu, sebelum melakukan. Sebagaimana suatu kaidah syar’iyah
yang berbunyi: “Asal (pokok/dasar) perbuatan adalah terkait (terikat) dengan hukum-hukum Islam.” Termasuk
dalam “berkasih sayang” versi Valentine’s Day ini, wajib tahu hukumnya.
Biar kamu nggak jeblok alias nggak nyesel seumur hidup kamu.
Valentine’s
Day yang mengusung kemasan ‘kasih sayang’ memang telah berhasil
memalingkan kamu dari kasih sayang yang suci dalam pandangan Islam.
Kasih sayang yang dimuat Valentine’s Day itu bernuansa kebebasan
bergaul. Dan ini jelas sangat berbahaya. Karena konsekuensi dari masalah
ini adalah halal atau haram alias pahala dan dosa. Kenapa? Soalnya
berkaitan dengan pandangan hidup alias way of life aqidah tertentu.
Valentine’s Day sengaja digelar untuk mencuci pemikiran generasi muda Islam. Paling tidak ide kebebasan bertingkah laku alias hurriyatus syakhshiyyah
telah menjadi tren bagi generasi muda macam kamu. Gaul bebas dengan
lawan jenis bukan hal yang tabu lagi. Malah bisa jadi sebagai sebuah
keharusan yang tak bisa ditolelir lagi. Kayaknya sudah seperti hidup
atau mati urusannya. Berbahaya memang.
Kemasan
Valentine’s Day memang mampu menyihir siapa saja yang kendor imannya.
Dalam sebuah teori komunikasi massa, ada istilah efek penanaman. Yakni
efek yang bisa membuat orang meyakini tentang sesuatu yang sering
dipublikasikan—meski itu adalah salah. Contohnya Valentine’s Day ini.
Digembar-gemborkan dengan sangat gencar dan dengan kemasan menarik, dan
terus menerus disuarakan yang pada gilirannya orang lalu bisa menarik
kesimpulan bahwa itu benar dan dilegalkan. Padahal sebenarnya bobrok
dalam pandangan Islam. Di sinilah perlunya kita melihat persoalan dengan
pandangan yang jernih dan mendalam khas Islam. Nggak boleh yang lain.
Budaya Sampah!
Rasulullah
saw, orang yang paling mulia dan kita teladani dengan tegas
memperingatkan kita agar jangan mengikuti pola hidup (budaya)
kaum/bangsa lain, sebagaimana sabdanya: “Tidak akan terjadi kiamat
sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh
bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah,
sehasta demi sehasta.” Diantara sahabat ada yang bertanya: “(Ya Rasulullah) apakah yang dimaksud (di sini) seperti bangsa Persia dan Romawi?” Rasulullah saw menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)” (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).
Sebagai
seorang remaja muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu
saja kita nggak layak mengikuti budaya yang tak jelas juntrungannya.
Terlebih Valentine’s Day ini adalah produk peradaban Barat yang
sekuler—yang memisahkan antara agama dengan kehidupan (politik).
Valentine’s
Day hanya sebuah sarana dari sekian banyak sarana peradaban Barat yang
notabene terbilang maju. Bisa jadi Valentine’s Day adalah sebagai alat
penjajahan Barat. Paling tidak dari sisi budaya dan gaya hidup.
Ada baiknya kita merenungkan pernyata sosiolog muslim yang terkenal, yakni Ibnu Khaldun. Apa yang dikemukakannya? Kata beliau: “Yang
kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan,
bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup
mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat
mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala),
baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”
Ya,
Valentine’s Day telah memakan banyak korban, khususnya kamu yang masih
remaja. Kamu tertipu di balik gemerlapnya. Valentine’s Day telah menikam
perasaan dan pikiran sehat kamu. Dan kamu menjadi liar dalam mewujudkan
kasih sayang kamu. Hati-hati kawan, jangan sampai celaan Nabi kita
dialamatkan kepada kita melalui sabdanya: “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).
Ih, naudzu billahi min dzalik! []http://osolihin.wordpress.com/2007/03/08/jangan-tertipu-gemerlap-valentines-days/
0 komentar:
Posting Komentar