11.00 -
ken cerpen
No comments
ken cerpen
No comments
Kelopak Terakhir
Matahari sudah bergelantungan diatap langit, persis diatas
ubun-ubun kepala. Cuaca hari ini memang lumayan panas. Maklum, sedang
pertengahan musim kemarau. Bedug masjid kampung sebelah baru saja berbunyi,
pertanda Waktu Dhuhur baru saja masuk. Diikuti bel sekolah SMP Harapan yang
juga baru dibunyikan. Suara gaduh dari ruang-ruang kelas saling bersahutan, bak
deburan ombak di pantai Watu Ulo. Ramai. Ipung
baru saja membereskan buku-buku pelajarannya kedalam tas, ditemani
Sugeng teman sebangkunya. mereka masih terlihat santai, tak suka berdesakan
dengan teman kelasnya I-A yang lain –terutama anak perempuan—karena mereka
berdua memang pemalu. Sepuluh menit berjalan dari sekolah, akhirnya sampai juga
di depan rumah. Dengan menaiki sepeda BMX hadiah pemberian dari ayah waktu
juara kelas dan keringat masih bercucuran dikening, Ipung mengucapkan salam
sambil nyelonong masuk, lalu rebahan disofa depan.Hanya Ayah yang ada dirumah
waktu itu. Setelah Ayah menanyakan tentang sekolah, beranajak Ipung ke kamar
mandi untuk berwudlu. Shalat berjamaah dengan Ayah, hal itu biasa dilakukan setiap
pulang dari sekolah. Ayah termasuk orang yang taat dalam mengerjakan perintah
agamanya.
Alumni pesantren ini adalah sosok yang sangat Ipung idolakan dan
sangat ia sayangi dan dihormati.
Jam lima sore Ummi baru pulang dari rumah bibi –adik Ummi
–setelah seharian membantu bekerja karena ada hajatan di rumah beliau. Ummi
terlihat agak kelelahan hari ini setalah seharian bekerja. sambil masuk ke
dapur tuk menyiapkan makan malam. Ba’da Isya setelah tilawah pada Ayah, ipung
langsung berkumpul dimeja makan bersama keluarga. Nabila adik bungsu Ipung
selesai pertama kali, dia langsung ngeloyor kedepan TV. nonton acara
kesukaannya. Ummi dan Ayah Cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah anak
bungsunya itu. gemas. Ayah yang tiap selesai Isya biasa mengajar kitab di Pondok
kiai Syamsul sang mertua, malam ini libur karena ada sedikit udzur, Hingga
beliau tidak bisa hadir mengisi pengajian. Memang sejak dua tahun yang lalu,
Ayah sudah menderita penyakit ginjal. Menurut dokter pribadi Ayah, penyakitnya
tidak begitu parah. Tapi semenjak kejadian terjatuhnya Ayah ketika
menghadiri salah satu undangan di luar
kota, yang menyebabkan tangan kanan beliau gingsir(jawa), kesehatan
beliau agak menurun. Tapi beliau terkadang masih tetap datang jika ada
undangan.
Esoknya sepulang sekolah, keluarga Ipung sudah bersiap-siap
untuk bepergian. Ternyata Ayah mengajak seluruh keluarga untuk berDharma Wisata
ke Taman Safari Prigen. Kata beliau ingin mengajak keluarga ketempat wisata
karena sudah rindu dan lama tidak berkumpul bersantai bersama. Ipung terlihat
kegirangan karena akan rekreasi, hal yang paling ia senang. Seketika rasa
lelahnya hilang, Padahal tadi pagi mata pelajaran Olah Raga di sekolah. Tak
lupa kedua kakaknya yang ada di Pesantren juga diajak oleh Ayah. rindu katanya.
“Mi, kok tumben aya ngajak kita jalan bareng, emangnya ada acara apa?”Icha
kakak perempuan Ipung sempat bertanya ketika Ayah masih ke kamar kecil disalah
satu masjid ketika berhenti di Probolinggo. “gak tahu, katanya sih Ayah kangen
kalian, yang penting khan kalian bisa jalan-jalan”. Jawab Ummi santai seraya
menggoda putra-putrinya. Icha Cuma manggut-manggut mengiyakan jawaban Umminya.
Robet dan Ipung Cuma cengengesan bareng. “Mi…gimana sakitnya Ayah?”, Robet kakak tertua Ipung yang satu
pesantren dengan adeknya Icha menanyakan hal yang membuat mimik wajah Umminya sedikit terlihat sedih.
Icha yang tahu kesediahan Umminya menyikut lengan kakaknya sambil melotot
kesal. Robet terlihat bersalah. Ipung Cuma bingung melihat tingkah kedua
kakaknya itu. “gak pa-pa, sakit Ayah sudah baikan”. Jawab Ummi tenang, tapi
masih ada raut kesedihan diwajah beliau. Ayah sudah keluar dari masjid, sopir
melanjutkan perjalanannya kembali. Jam setengah empat mereka sudah sampai di
tempat tujuan, kegembiraan mereka tumpahkan disana sampai mereka puas. Ayah
juga.
@@@
Jam 02:10 malam rumah Ipung geger. Ummi bingung karena Ayah
tak sadarkan diri, kondisinya melemah. Semua saudara sudah datang setelah
dihubungi satu-persatu. Mereka berinisiatif membawa Ayah ke rumah sakit. Panik.
Di rumah sakit Ipung masih terjaga malam itu, matanya belum bisa dipejamkan
barang semenit, sampai shubuh menjelang. Ba’da shalat di musholla rumah sakit,
Ipung kembali ke ruangan tempat Ayah dirawat –Paviliun Mawar, kamar kelas II
–setelah dipindahkan dari ruang UGD, untuk menggantikan Ummi yang semenjak tiba
di rumah sakit terus menemani Ayah yang kini sudah siuman. Diluar ada beberapa
saudara sedang asik mengobrol –sebagian ada yang tidur –sambil menunggu pagi.
Nabila masih terlihat nyenyak dalam tidurnya. Ada juga beberapa kerabat dari
pihak Ayah dan sahabat-sahabat dekatnya yang juga datang untuk menjenguk.
“Pung, Ummi mau sahalat dulu…kamu jagain Ayah ya”. Ipung mengangguk hormat.
“Yah.., Ummi shalat dulu, Ayah mau apa?”. sembari mendekati Ayah di
pembaringan. ternyata Ayah hanya ingin berwudlu, beliau ingin shalat. Duh…Ayahku
sayang, dalam keadaan sakit pun beliau masih ingat shalat. Tak seperti aku dan
yang lain, sakit sedikit saja shalat sudah libur. Ayah shalat sambil telentang,
iba rasanya melihat keadaan beliau seperti itu. Batin Ipung lirih sambil
menunggui Ayahnya dari samping pembaringan.
Jam sembilan pagi, Icha dan Robet tiba di rumah sakit
setelah dijemput dari Pondoknya oleh Om Mahmud. Mereka sengaja di mintakan ijin
pulang, Padahal Ayah sudah melarang agar mereka tidak usah dijemput. Tapi
keluarga berinisiatif untuk menjemput keduanya tanpa sepengetahuan Ayah dan
sudah mendapat ijin dari Ummi. Sampai di rumah sakit mereka langsung ke kamar
Ayah dirawat, berhambur bersama Ummi dan Ipung dengan mata sembab. Ayah
ternyata sudah bangun dan beliau hanya tersenyum ketika keduanya bersalaman dan
mencium pipi beliau. Haru rasanya setelah empat bulan tak bertemu.
@@@
“Mi…Ummi…!” Ummi bangun dari
istirahatnya di sofa samping Ayah. “ya Ayah, ada apa?”, Tanya Ummi lembut
sembari memandangi wajah suaminya yang semakin lama semakin kurus itu. “sudah
tiga hari Ayah di sini, Ayah gak kerasan mau pulang saja”, pinta Ayah lirih.
Ummi sedikit mencegah, tapi Ayah memaksa. Ummi mengalah. Esoknya, setelah semua
administrasi rumah sakit sudah lunas dibayar, jam lima sore semua barang-barang
sudah dikemas, dan semua siap untuk pulang ke rumah. Ada tiga mobil yang sudah
menjemput, tapi Ayah dibawa menggunakan ambulan rumah sakit. Beliau masih belum
kuat untuk duduk berlama-lama. Masih lemah. Ipung sudah menunggu di rumah, dia
harus pulang terlebih dahulu karena harus mengikuti ujian di sekolah. uang
jajan yang diberi Ayah belum sempat ia belanjakan. setelah isya’, rombongan
dari rumah sakit tiba di rumah. Ipung dan kerabat-kerabatnya, serta murid-murid
Ayah sudah menunggu kepulangan beliau dari rumah sakit.
Ayah terlihat lemah ketika dipapah
dari ambulan menuju rumah. Ipung dan keluarga langsung berkumpul dikamar depan
tempat beliau berbaring, sebagian ada yang langsung pulang. Mungkin terlalu
lelah setelah dari rumah sakit tadi. Malam itu terasa begitu berbeda dari
biasanya. Lengang. Beberapa saudara yang belum sempat menjenguk ke rumah sakit
langsung menjenguk ke rumah, beberapa tetangga juga terlihat mellek’an didepan
rumah. jam dua malam Ipung sudah tak kuat menahan kantuk, ia menuju kamar dan
merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Niat hati masih ingin menemani Ayahnya,
tapi matanya tak bisa dikompromi lagi. Esoknya, Pagi-pagi sekali Robet sudah
terlihat segar dihalaman rumah, sebagai anak tertua dia memang menjadi pribadi
yang bisa memberikan teladan yang baik bagi adik-adiknya. Shubuhnya saja, dia
sudah sibuk membangunkan saudara-saudaranya yang lain. Begitu pun dengan Ummi,
selesai shalat shubuh beliau langsung tilawah al-Qur’an disamping Ayah, wajah
beliau agak sedikit terlihat lebih kurus semenjak Ayah masuk rumah sakit,
mungkin karena jarang tidur menemani suami tercintanya.
“pung, kalo mau berangkat sekolah jangan lupa pamitan sama
Ayah ya”, kata Icha pagi itu pada Ipung. Memang Icha-lah saudara Ipung yang
paling care dengan dia. Pagi ini Ipung bangun dan berangkat lebih awal,
ia mungkin merasa malu pada kedua saudaranya itu yang memang terbiasa bangun
pagi-pagi sekali. “yah…Ipung berangkat dulu yah…” ucapnya dengan nada sangat
hormat dan pelan. Ayah hanya memandang, lalu tersenyum. Ipung mencium tangan
Ayahnya ta’dhim, kemudian mencium pipi Ayahnya dua kali. Lalu dia pamitan pada
sang Ummi. Ayah terlihat tidur rebahan dipangkuan Ummi, terlihat masih adanya
kemesraan antara mereka. Meskipun usia pernikahannya terbilang sudah lama.
Dalam kelas, pikiran Ipung sedikit terganggu. Sosok sang
Ayah terasa terus berkelebat dalam pikirannya. Pertengahan jam pelajaran kedua,
saat pak guru serius menerangkan materi pelajaran, seseoarng mengetuk pintu
dari luar. Pak guru yang membuka pintu terlihat mengobrol dengan seseorang
diluar. Sesekali beliau menoleh ke arah Ipung yang sedang memperhatikan beliau.
Lambaian tangan pak guru menandakan beliau memanggil salah seorang murid yang
ada dalam kelas, Ipung kaget karena dirinyalah yang ternyata di panggil oleh sang wali kelas
tersebut. “mas Robet..ngapain kesini?!”, Tanya Ipung heran. “anu…dek, kamu
disuruh pulang”, balas Robet mencoba tenang. Ipung menoleh kearah pak gurunya,
beliau hanya mengangguk kecil. “yang sabar ya pung!” pesan pak gurunya semakin
membuat dia bingung. Ada apa sebenarnya?.
Diatas
motor, Ipung masih heran kenapa dia disuruh pulang mendadak begini. “mas,
emangnya ada apa di rumah kok sampe Ipung disuruh pulang?”. Tanya Ipung heran
“anu pung, Ayah…”. Kalimatnya terputus. Diam. Ayah…, ada apa dengan Ayah?.
@@@
Rintik hujan masih saja terus menetes, menambah basah
gundukan tanah yang masih baru itu. ditambah dengan semerbak wewangian bunga
pandan dan melati yang menusuk hidung, menambah suasana sakral terasa semakin
kental. Beberapa orang terlihat masih khusyuk mengaji dibawah pondokan
pemakaman, beberapa ada yang didekat makam yang masih baru itu. Ipung, Robet,
dan beberapa kerabat serta pentakziah masih belum beranjak dari tempatnya
bersimpuh. diwajah mereka terlihat mendung, menyimpan berjuta rasa kehilangan
yang amat mendalam. Sesekali terdengar suara sesenggukan dari belakang disela
rintiknya hujan. Ya… Ayah telah berpulang ke Rahmatulloh pagi tadi, akibat
penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Sebuah pukulan berat bagi keluarga
Ipung, bahkan, Nabila pun mungkin masih belum mengerti tentang derita
keluarganya, yang menjadikan status yatim kini menyandang pada dirinya. Tapi, pukulan paling berat dirasakan oleh
Ummi. suami yang selama ini sangat dicintainya dan menjadi tulang punggung
keluarga serta teman hidupnya itu, kini telah pergi untuk selama-lamanya. Belum
lagi beliau harus menanggung beban hidup keluarga seorang diri. Robet masih
didepan pusara Ayahnya, dengan derai air mata kesedihan, tak henti-hentinya ia
berdoa. Icha sendiri kini tak mau makan dan mengurung diri dalam kamar. Ipung?
Dia terlihat tertunduk lesu didepan pusara Ayah tercintanya, bibirnya tak
pernah berhenti tuk terus mendoakan Ayahnya, yang kini telah tiada.
Rintik itu semakin deras, menjelma menjadi gerimis yang
membasahi setiap kelopak mawar yang ada diatas pusara Ayah. Langit seakan turut
berduka. “pung..jaga Ummi ya, jangan nakal”. Pesan terakhir Ayah sebelum beliau
wafat terlintas kembali dibenaknya. “yah…kapan Ipung ketemu Ayah lagi?”, air
mata itu mengalir membasahi pipi, tak dapat dibendung. Tenggorokannya terasa
sakit. Sakit. Dan air mata itupun jatuh tepat diatas pusara ayahnya serasa
ingin menemani ke liang lahat. Di antara nisan Ayah, hatinya terus berdoa
semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan abadi-NYa pada Ayah. Selamat
jalan ayah, doakanlah kami semua agar menjadi anak yang selalu taat pada orang
tua. Amin. (tamat)
Kupersembahkan Untuk Ayahku Tercinta
Kami akan Selalu Merindukanmu.
0 komentar:
Posting Komentar