Senin, 18 November 2013

Kelopak Terakhir




Matahari sudah bergelantungan diatap langit, persis diatas ubun-ubun kepala. Cuaca hari ini memang lumayan panas. Maklum, sedang pertengahan musim kemarau. Bedug masjid kampung sebelah baru saja berbunyi, pertanda Waktu Dhuhur baru saja masuk. Diikuti bel sekolah SMP Harapan yang juga baru dibunyikan. Suara gaduh dari ruang-ruang kelas saling bersahutan, bak deburan ombak di pantai Watu Ulo. Ramai. Ipung  baru saja membereskan buku-buku pelajarannya kedalam tas, ditemani Sugeng teman sebangkunya. mereka masih terlihat santai, tak suka berdesakan dengan teman kelasnya I-A yang lain –terutama anak perempuan—karena mereka berdua memang pemalu. Sepuluh menit berjalan dari sekolah, akhirnya sampai juga di depan rumah. Dengan menaiki sepeda BMX hadiah pemberian dari ayah waktu juara kelas dan keringat masih bercucuran dikening, Ipung mengucapkan salam sambil nyelonong masuk, lalu rebahan disofa depan.Hanya Ayah yang ada dirumah waktu itu. Setelah Ayah menanyakan tentang sekolah, beranajak Ipung ke kamar mandi untuk berwudlu. Shalat berjamaah dengan Ayah, hal itu biasa dilakukan setiap pulang dari sekolah. Ayah termasuk orang yang taat dalam mengerjakan perintah agamanya.
Alumni pesantren ini adalah sosok yang sangat Ipung idolakan dan sangat ia sayangi dan dihormati.
Jam lima sore Ummi baru pulang dari rumah bibi –adik Ummi –setelah seharian membantu bekerja karena ada hajatan di rumah beliau. Ummi terlihat agak kelelahan hari ini setalah seharian bekerja. sambil masuk ke dapur tuk menyiapkan makan malam. Ba’da Isya setelah tilawah pada Ayah, ipung langsung berkumpul dimeja makan bersama keluarga. Nabila adik bungsu Ipung selesai pertama kali, dia langsung ngeloyor kedepan TV. nonton acara kesukaannya. Ummi dan Ayah Cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah anak bungsunya itu. gemas. Ayah yang tiap selesai Isya biasa mengajar kitab di Pondok kiai Syamsul sang mertua, malam ini libur karena ada sedikit udzur, Hingga beliau tidak bisa hadir mengisi pengajian. Memang sejak dua tahun yang lalu, Ayah sudah menderita penyakit ginjal. Menurut dokter pribadi Ayah, penyakitnya tidak begitu parah. Tapi semenjak kejadian terjatuhnya Ayah ketika menghadiri  salah satu undangan di luar kota, yang menyebabkan tangan kanan beliau gingsir(jawa), kesehatan beliau agak menurun. Tapi beliau terkadang masih tetap datang jika ada undangan.
Esoknya sepulang sekolah, keluarga Ipung sudah bersiap-siap untuk bepergian. Ternyata Ayah mengajak seluruh keluarga untuk berDharma Wisata ke Taman Safari Prigen. Kata beliau ingin mengajak keluarga ketempat wisata karena sudah rindu dan lama tidak berkumpul bersantai bersama. Ipung terlihat kegirangan karena akan rekreasi, hal yang paling ia senang. Seketika rasa lelahnya hilang, Padahal tadi pagi mata pelajaran Olah Raga di sekolah. Tak lupa kedua kakaknya yang ada di Pesantren juga diajak oleh Ayah. rindu katanya. “Mi, kok tumben aya ngajak kita jalan bareng, emangnya ada acara apa?”Icha kakak perempuan Ipung sempat bertanya ketika Ayah masih ke kamar kecil disalah satu masjid ketika berhenti di Probolinggo. “gak tahu, katanya sih Ayah kangen kalian, yang penting khan kalian bisa jalan-jalan”. Jawab Ummi santai seraya menggoda putra-putrinya. Icha Cuma manggut-manggut mengiyakan jawaban Umminya. Robet dan Ipung Cuma cengengesan bareng. “Mi…gimana sakitnya  Ayah?”, Robet kakak tertua Ipung yang satu pesantren dengan adeknya Icha menanyakan hal yang membuat  mimik wajah Umminya sedikit terlihat sedih. Icha yang tahu kesediahan Umminya menyikut lengan kakaknya sambil melotot kesal. Robet terlihat bersalah. Ipung Cuma bingung melihat tingkah kedua kakaknya itu. “gak pa-pa, sakit Ayah sudah baikan”. Jawab Ummi tenang, tapi masih ada raut kesedihan diwajah beliau. Ayah sudah keluar dari masjid, sopir melanjutkan perjalanannya kembali. Jam setengah empat mereka sudah sampai di tempat tujuan, kegembiraan mereka tumpahkan disana sampai mereka puas. Ayah juga.
@@@
Jam 02:10 malam rumah Ipung geger. Ummi bingung karena Ayah tak sadarkan diri, kondisinya melemah. Semua saudara sudah datang setelah dihubungi satu-persatu. Mereka berinisiatif membawa Ayah ke rumah sakit. Panik. Di rumah sakit Ipung masih terjaga malam itu, matanya belum bisa dipejamkan barang semenit, sampai shubuh menjelang. Ba’da shalat di musholla rumah sakit, Ipung kembali ke ruangan tempat Ayah dirawat –Paviliun Mawar, kamar kelas II –setelah dipindahkan dari ruang UGD, untuk menggantikan Ummi yang semenjak tiba di rumah sakit terus menemani Ayah yang kini sudah siuman. Diluar ada beberapa saudara sedang asik mengobrol –sebagian ada yang tidur –sambil menunggu pagi. Nabila masih terlihat nyenyak dalam tidurnya. Ada juga beberapa kerabat dari pihak Ayah dan sahabat-sahabat dekatnya yang juga datang untuk menjenguk. “Pung, Ummi mau sahalat dulu…kamu jagain Ayah ya”. Ipung mengangguk hormat. “Yah.., Ummi shalat dulu, Ayah mau apa?”. sembari mendekati Ayah di pembaringan. ternyata Ayah hanya ingin berwudlu, beliau ingin shalat. Duh…Ayahku sayang, dalam keadaan sakit pun beliau masih ingat shalat. Tak seperti aku dan yang lain, sakit sedikit saja shalat sudah libur. Ayah shalat sambil telentang, iba rasanya melihat keadaan beliau seperti itu. Batin Ipung lirih sambil menunggui Ayahnya dari samping pembaringan.
Jam sembilan pagi, Icha dan Robet tiba di rumah sakit setelah dijemput dari Pondoknya oleh Om Mahmud. Mereka sengaja di mintakan ijin pulang, Padahal Ayah sudah melarang agar mereka tidak usah dijemput. Tapi keluarga berinisiatif untuk menjemput keduanya tanpa sepengetahuan Ayah dan sudah mendapat ijin dari Ummi. Sampai di rumah sakit mereka langsung ke kamar Ayah dirawat, berhambur bersama Ummi dan Ipung dengan mata sembab. Ayah ternyata sudah bangun dan beliau hanya tersenyum ketika keduanya bersalaman dan mencium pipi beliau. Haru rasanya setelah empat bulan tak bertemu.
@@@
            “Mi…Ummi…!” Ummi bangun dari istirahatnya di sofa samping Ayah. “ya Ayah, ada apa?”, Tanya Ummi lembut sembari memandangi wajah suaminya yang semakin lama semakin kurus itu. “sudah tiga hari Ayah di sini, Ayah gak kerasan mau pulang saja”, pinta Ayah lirih. Ummi sedikit mencegah, tapi Ayah memaksa. Ummi mengalah. Esoknya, setelah semua administrasi rumah sakit sudah lunas dibayar, jam lima sore semua barang-barang sudah dikemas, dan semua siap untuk pulang ke rumah. Ada tiga mobil yang sudah menjemput, tapi Ayah dibawa menggunakan ambulan rumah sakit. Beliau masih belum kuat untuk duduk berlama-lama. Masih lemah. Ipung sudah menunggu di rumah, dia harus pulang terlebih dahulu karena harus mengikuti ujian di sekolah. uang jajan yang diberi Ayah belum sempat ia belanjakan. setelah isya’, rombongan dari rumah sakit tiba di rumah. Ipung dan kerabat-kerabatnya, serta murid-murid Ayah sudah menunggu kepulangan beliau dari rumah sakit.
            Ayah terlihat lemah ketika dipapah dari ambulan menuju rumah. Ipung dan keluarga langsung berkumpul dikamar depan tempat beliau berbaring, sebagian ada yang langsung pulang. Mungkin terlalu lelah setelah dari rumah sakit tadi. Malam itu terasa begitu berbeda dari biasanya. Lengang. Beberapa saudara yang belum sempat menjenguk ke rumah sakit langsung menjenguk ke rumah, beberapa tetangga juga terlihat mellek’an didepan rumah. jam dua malam Ipung sudah tak kuat menahan kantuk, ia menuju kamar dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Niat hati masih ingin menemani Ayahnya, tapi matanya tak bisa dikompromi lagi. Esoknya, Pagi-pagi sekali Robet sudah terlihat segar dihalaman rumah, sebagai anak tertua dia memang menjadi pribadi yang bisa memberikan teladan yang baik bagi adik-adiknya. Shubuhnya saja, dia sudah sibuk membangunkan saudara-saudaranya yang lain. Begitu pun dengan Ummi, selesai shalat shubuh beliau langsung tilawah al-Qur’an disamping Ayah, wajah beliau agak sedikit terlihat lebih kurus semenjak Ayah masuk rumah sakit, mungkin karena jarang tidur menemani suami tercintanya.
“pung, kalo mau berangkat sekolah jangan lupa pamitan sama Ayah ya”, kata Icha pagi itu pada Ipung. Memang Icha-lah saudara Ipung yang paling care dengan dia. Pagi ini Ipung bangun dan berangkat lebih awal, ia mungkin merasa malu pada kedua saudaranya itu yang memang terbiasa bangun pagi-pagi sekali. “yah…Ipung berangkat dulu yah…” ucapnya dengan nada sangat hormat dan pelan. Ayah hanya memandang, lalu tersenyum. Ipung mencium tangan Ayahnya ta’dhim, kemudian mencium pipi Ayahnya dua kali. Lalu dia pamitan pada sang Ummi. Ayah terlihat tidur rebahan dipangkuan Ummi, terlihat masih adanya kemesraan antara mereka. Meskipun usia pernikahannya terbilang sudah lama.
Dalam kelas, pikiran Ipung sedikit terganggu. Sosok sang Ayah terasa terus berkelebat dalam pikirannya. Pertengahan jam pelajaran kedua, saat pak guru serius menerangkan materi pelajaran, seseoarng mengetuk pintu dari luar. Pak guru yang membuka pintu terlihat mengobrol dengan seseorang diluar. Sesekali beliau menoleh ke arah Ipung yang sedang memperhatikan beliau. Lambaian tangan pak guru menandakan beliau memanggil salah seorang murid yang ada dalam kelas, Ipung kaget karena dirinyalah yang  ternyata di panggil oleh sang wali kelas tersebut. “mas Robet..ngapain kesini?!”, Tanya Ipung heran. “anu…dek, kamu disuruh pulang”, balas Robet mencoba tenang. Ipung menoleh kearah pak gurunya, beliau hanya mengangguk kecil. “yang sabar ya pung!” pesan pak gurunya semakin membuat dia bingung. Ada apa sebenarnya?.
Diatas motor, Ipung masih heran kenapa dia disuruh pulang mendadak begini. “mas, emangnya ada apa di rumah kok sampe Ipung disuruh pulang?”. Tanya Ipung heran “anu pung, Ayah…”. Kalimatnya terputus. Diam. Ayah…, ada apa dengan Ayah?.
@@@
                        Rintik hujan masih saja terus menetes, menambah basah gundukan tanah yang masih baru itu. ditambah dengan semerbak wewangian bunga pandan dan melati yang menusuk hidung, menambah suasana sakral terasa semakin kental. Beberapa orang terlihat masih khusyuk mengaji dibawah pondokan pemakaman, beberapa ada yang didekat makam yang masih baru itu. Ipung, Robet, dan beberapa kerabat serta pentakziah masih belum beranjak dari tempatnya bersimpuh. diwajah mereka terlihat mendung, menyimpan berjuta rasa kehilangan yang amat mendalam. Sesekali terdengar suara sesenggukan dari belakang disela rintiknya hujan. Ya… Ayah telah berpulang ke Rahmatulloh pagi tadi, akibat penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Sebuah pukulan berat bagi keluarga Ipung, bahkan, Nabila pun mungkin masih belum mengerti tentang derita keluarganya, yang menjadikan status yatim kini menyandang pada dirinya.  Tapi, pukulan paling berat dirasakan oleh Ummi. suami yang selama ini sangat dicintainya dan menjadi tulang punggung keluarga serta teman hidupnya itu, kini telah pergi untuk selama-lamanya. Belum lagi beliau harus menanggung beban hidup keluarga seorang diri. Robet masih didepan pusara Ayahnya, dengan derai air mata kesedihan, tak henti-hentinya ia berdoa. Icha sendiri kini tak mau makan dan mengurung diri dalam kamar. Ipung? Dia terlihat tertunduk lesu didepan pusara Ayah tercintanya, bibirnya tak pernah berhenti tuk terus mendoakan Ayahnya, yang kini telah tiada.
Rintik itu semakin deras, menjelma menjadi gerimis yang membasahi setiap kelopak mawar yang ada diatas pusara Ayah. Langit seakan turut berduka. “pung..jaga Ummi ya, jangan nakal”. Pesan terakhir Ayah sebelum beliau wafat terlintas kembali dibenaknya. “yah…kapan Ipung ketemu Ayah lagi?”, air mata itu mengalir membasahi pipi, tak dapat dibendung. Tenggorokannya terasa sakit. Sakit. Dan air mata itupun jatuh tepat diatas pusara ayahnya serasa ingin menemani ke liang lahat. Di antara nisan Ayah, hatinya terus berdoa semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan abadi-NYa pada Ayah. Selamat jalan ayah, doakanlah kami semua agar menjadi anak yang selalu taat pada orang tua. Amin.  (tamat)

Kupersembahkan Untuk Ayahku Tercinta
Kami akan Selalu Merindukanmu.

0 komentar:

Posting Komentar